Dosen FBS Undiksha Soroti Kearifan Lokal dalam Sarasehan PKB 2025: Refleksi Harmoni Semesta Raya

FBS Undiksha dan PGRI Silampari Perkuat Kolaborasi Akademik untuk Pendidikan Berkelanjutan

Juli 14, 2025

Mahasiswa PBSI FBS Undiksha Lolos Program Nasional “Belajar Bersama Maestro” Bidang Teater

Juli 22, 2025

FBS Undiksha dan PGRI Silampari Perkuat Kolaborasi Akademik untuk Pendidikan Berkelanjutan

Juli 14, 2025

Mahasiswa PBSI FBS Undiksha Lolos Program Nasional “Belajar Bersama Maestro” Bidang Teater

Juli 22, 2025

Denpasar, 16 Juli 2025 – Pesta Kesenian Bali (PKB) 2025 yang digelar dari 21 Juni hingga 19 Juli bukan hanya menjadi panggung ekspresi seni, tetapi juga ruang reflektif terhadap dinamika budaya Bali yang terus hidup dan berkembang. Salah satu agenda penting dalam PKB adalah sarasehan (widyatula), yang tahun ini kembali menghadirkan pembicara dari berbagai latar belakang akademik dan praktisi budaya.

Mengusung tema “Jagat Kerthi Lokahita Samudaya” yang bermakna harmoni semesta raya untuk kesejahteraan bersama, sarasehan yang berlangsung di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Denpasar, menghadirkan dosen Program Studi Pendidikan Bahasa Bali Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha), Ida Bagus Putra Manik Aryana, S.S., M.Si.

Dikenal luas sebagai Atu Gus Manik atau Atu Aji Manik, dosen ini membawakan makalah berjudul “Sipta dan Tetenger: Membaca Tanda-Tanda Alam”, sebuah kajian mendalam terhadap lontar Bhuwana Pariwesa. Melalui pendekatan ideofak (budaya sebagai gagasan) kajian ini menelaah kearifan lokal dalam menafsirkan ciri-ciri empirik alam sebagai bagian dari upaya menjaga keseimbangan semesta. Pengetahuan tradisional ini tidak hanya mencerminkan hubungan manusia dengan alam, tetapi juga menjadi dasar nilai-nilai hidup yang relevan dalam merespons tantangan global saat ini, termasuk krisis iklim dan degradasi lingkungan.

Kehadiran dosen FBS Undiksha dalam forum ini mencerminkan peran aktif institusi pendidikan dalam mendukung SDG 4: Pendidikan Berkualitas, khususnya dalam memajukan pendidikan berbasis budaya lokal dan keberlanjutan. Selain itu, penguatan nilai-nilai lokal dan warisan budaya ini juga sejalan dengan SDG 11: Kota dan Pemukiman yang Berkelanjutan, yang mendorong pelestarian warisan budaya dunia.

Makalah Atu Aji Manik bersinergi dengan presentasi lain yang menyoroti aspek budaya sebagai perilaku (sosiofak) melalui seni tari Legong Gaya Saba oleh maestro I Gusti Ngurah Serama Semadi, serta seni rupa sebagai benda (artefak) lewat lukisan gaya Deblog oleh I Made Susanta Dwitanaya, alumni Pendidikan Seni Rupa Undiksha. Seluruh paparan ini menunjukkan kesinambungan antara pengetahuan tradisi dan keberlanjutan modern.

arasehan ini tidak hanya menjadi ajang intelektual, tetapi juga wadah pelestarian dan diseminasi nilai-nilai budaya Bali. Keterlibatan akademisi FBS Undiksha menunjukkan komitmen kampus dalam memperkuat peran pendidikan tinggi sebagai penjaga warisan budaya sekaligus agen perubahan dalam pencapaian pembangunan berkelanjutan.