Dosen FBS Undiksha Raih Penghargaan Internasional Lewat Inovasi Font untuk Anak Disleksia

Mahasiswa FBS Undiksha Raih Penghargaan pada Lomba Pidato Bahasa Jepang di Iwate

Oktober 29, 2025

FBS Undiksha Tingkatkan Jejaring Global melalui Program Akademik dan Kolaborasi Riset di Tiongkok

November 1, 2025

Mahasiswa FBS Undiksha Raih Penghargaan pada Lomba Pidato Bahasa Jepang di Iwate

Oktober 29, 2025

FBS Undiksha Tingkatkan Jejaring Global melalui Program Akademik dan Kolaborasi Riset di Tiongkok

November 1, 2025

Nama Undiksha kembali harum di level internasional berkat inovasi dosen muda dari Fakultas Bahasa dan Seni (FBS), Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha) I Ketut Trika Adi Ana, berhasil meraih Best Presenter Award dalam ajang internasional International Digital Education Conference (iDEC) 2025 yang diselenggarakan oleh Universiti Sains Malaysia (USM) pada 28–29 Oktober 2025.

Konferensi bergengsi ini diikuti puluhan peserta dari berbagai negara, seperti Malaysia, Cina, Taiwan, Filipina, Spanyol, Mauritius, Norwegia, dan Indonesia. Dalam forum tersebut, Trika memukau peserta melalui presentasinya berjudul “TrikaIndoDyslexic: A Special Font with a Mnemonic Concept as an Intervention Tool for Children at Risk of Visual Dyslexia.”

Melalui penelitiannya, Trika mengembangkan font khusus bernama TrikaIndoDyslexic, yang dirancang untuk membantu anak-anak dengan disleksia visual—kesulitan membedakan huruf-huruf mirip seperti b–d, p–q, u–n, dan i–l.

Berbeda dari font disleksia lain, TrikaIndoDyslexic tidak hanya menonjolkan perbedaan bentuk huruf, tetapi juga menerapkan konsep mnemonik visual dan auditori untuk membantu anak mengingat huruf melalui gambar dan bunyi yang sesuai dengan konteks bahasa Indonesia. Penelitian ini menggunakan model Successive Approximation yang meliputi tiga tahap utama: evaluasi, desain, dan pengembangan, serta melibatkan lima anak dengan kecenderungan disleksia visual.

Menurut Trika, disleksia sering disalahpahami sebagai bentuk kemalasan anak dalam belajar. Padahal, mereka hanya membutuhkan pendekatan yang sesuai. “Saya ingin menunjukkan bahwa teknologi dapat menjadi jembatan menuju pendidikan yang lebih inklusif dan adil,” ujarnya.

Inovasi ini sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs), khususnya SDG 4: Pendidikan Berkualitas dan SDG 10: Pengurangan Ketimpangan, yang menekankan pentingnya pendidikan inklusif bagi semua kalangan tanpa diskriminasi.

Prestasi ini menjadi bukti kontribusi nyata dosen FBS Undiksha dalam mendukung transformasi pendidikan berbasis teknologi sekaligus memperkuat posisi Indonesia dalam kancah akademik internasional.