
Seni yang Menyembuhkan: Pameran dan Diskusi Rupa di SLF 2025 FBS Undiksha
Juli 25, 2025
SLF 2025 di FBS Undiksha: Sastra sebagai Energi Penyembuhan Semesta
Juli 26, 2025Singaraja, 25 Juli 2025 — Galeri Paduraksa Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) Universitas Pendidikan Ganesha menjadi saksi hangatnya pertemuan antara seni, spiritualitas, dan penghormatan terhadap budaya dalam perhelatan Singaraja Literary Festival (SLF) 2025. Dalam suasana yang sarat makna, Direktur Jenderal Pengembangan, Pemanfaatan, dan Pembinaan Kebudayaan Kementerian Kebudayaan RI, Ahmad Mahendra, hadir langsung untuk menyaksikan Pameran dan Diskusi Seni yang merupakan bagian dari rangkaian acara SLF bertema “Buda Kecapi: Energi Penyembuhan Semesta.”
Kegiatan ini merupakan hasil kolaborasi antara FBS Undiksha dan Yayasan Mahima Indonesia, mempertemukan seniman nasional, akademisi seni, serta komunitas budaya dari berbagai daerah dalam semangat pemulihan melalui ekspresi visual. Mahendra hadir bersama para tokoh penting seperti seniman dan budayawan Putu Fajar Arcana, Dekan FBS Undiksha I Gede Nurjaya, Wakil Dekan I FBS Ni Luh Putu Eka Sulistia Dewi, serta Direktur SLF 2025 Sonia Piscayanti, yang turut mendampingi dan memperkenalkan galeri serta keseluruhan rangkaian festival.
Pameran menampilkan karya-karya kuat dan menyentuh dari tiga tokoh seni rupa Indonesia: Putu Fajar Arcana, yang dikenal sebagai editor budaya dan penulis naskah teater; Ni Nyoman Sani, pelukis Bali yang konsisten mengangkat tema perempuan dan estetika feminim; serta Nyoman Rediasa (Polenk), seniman yang karyanya telah tampil di panggung nasional dan internasional. Karya-karya ini tidak hanya memanjakan mata, tetapi juga mengundang kontemplasi atas luka, harapan, dan kekuatan budaya sebagai penyembuh kehidupan.
Dalam kunjungannya, Ahmad Mahendra menyampaikan apresiasi mendalam terhadap semangat festival yang menjadikan seni sebagai ruang penyembuhan dan dialog. Sebagai bentuk penghargaan nyata, ia membawa pulang dua karya seni dari pameran tersebut—sebuah tindakan simbolik yang mencerminkan dukungan terhadap nilai-nilai budaya lokal dan pentingnya seni dalam pembangunan kebudayaan nasional.
Kunjungan ini memperkuat pesan bahwa SLF 2025 bukan sekadar selebrasi estetika, tetapi juga upaya nyata membangun jembatan antara institusi pendidikan, seniman, dan pemerintah dalam mendorong pemajuan kebudayaan yang menyentuh akar dan hati masyarakat. Galeri Paduraksa, dalam momen ini, menjadi ruang perjumpaan yang menghidupkan kembali harapan—bahwa di tengah kompleksitas zaman, seni tetap menjadi suara yang paling jujur untuk menyuarakan pemulihan dan kemanusiaan.




