
Merawat Warisan, Menguatkan Pendidikan Berkualitas: FBS Undiksha Dukung SDGs Lewat Pameran Budaya Bali
Februari 5, 2026
Mahasiswa FBS Undiksha Dilepas Menuju LETIN 7 di Yogyakarta: Siap Tunjukkan Gagasan Kritis dan Inovatif
Februari 12, 2026Pemilihan Raya Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Pendidikan Ganesha masa bakti 2026–2027 menjadi lebih dari sekadar ajang pergantian kepemimpinan mahasiswa. Melalui debat kandidat dan kampanye gagasan, PEMIRA tahun ini dibaca sebagai upaya merawat demokrasi kampus yang sehat sekaligus menyiapkan kepemimpinan mahasiswa yang adaptif dan berdampak.
Tahapan kampanye lisan dan debat pasangan calon yang digelar Senin (9/2) di Auditorium Universitas Pendidikan Ganesha menghadirkan ruang adu gagasan antarcalon ketua dan wakil ketua BEM Fakultas Bahasa dan Seni Undiksha. Forum ini tidak hanya menguji visi dan program kerja, tetapi juga memperlihatkan kesiapan kandidat membaca tantangan organisasi mahasiswa di tengah perubahan sosial dan akademik yang kian dinamis.
Dekan Fakultas Bahasa dan Seni Undiksha, I Gede Nurjaya, menegaskan bahwa kepemimpinan mahasiswa pada era transformasi digital dan perubahan sosial yang cepat menuntut adanya kemampuan membaca perubahan zaman, membangun kolaborasi lintas disiplin, dan menghadirkan solusi yang relevan terhadap kebutuhan mahasiswa dan masyarakat. Kepemimpinan modern adalah kepemimpinan yang berbasis gagasan, data, dan keberpihakan pada nilai-nilai akademik. “Arah kepemimpinan mahasiswa ke depan harus mengarah pada lahirnya mahasiswa berdampak. Mahasiswa berdampak adalah mahasiswa yang kehadirannya dirasakan manfaatnya, tidak hanya di dalam kampus, tetapi juga di tengah masyarakat,” imbuhnya.
Dua pasangan calon tampil memaparkan gagasan mereka. Pasangan nomor urut satu, Putu Agus Sudarmayasa dan Made Adi Wirakusuma, menawarkan agenda penguatan organisasi dan pengembangan kapasitas mahasiswa. Sementara pasangan nomor urut dua, Ni Kadek Nia Darmayanti dan Kadek Galang Pramana, menekankan pentingnya kepemimpinan inklusif dan keberlanjutan program. Debat terbuka yang dipandu moderator berlangsung dinamis, dengan isu kepemimpinan, tata kelola organisasi, dan kontribusi konkret bagi mahasiswa FBS menjadi sorotan utama.
Rangkaian PEMIRA berlanjut melalui Sidang I BEM FBS masa bakti 2025–2026 dan sidang lanjutan untuk masa bakti 2026–2027. Lebih dari sekadar prosedur organisasi, tahapan ini diposisikan sebagai ruang pembelajaran politik kampus—tempat mahasiswa belajar bertanggung jawab atas pilihan, mengelola perbedaan, dan menyiapkan diri sebagai pemimpin yang matang secara etis dan intelektual.
Melalui PEMIRA, FBS Undiksha menegaskan komitmennya membangun budaya demokrasi kampus yang kritis, partisipatif, dan berorientasi pada dampak. Dari debat kandidat hingga pengambilan keputusan, demokrasi mahasiswa diharapkan tidak berhenti pada seremoni, tetapi menjadi fondasi kepemimpinan yang visioner dan bertanggung jawab.




