Seni yang Menyembuhkan: Pameran dan Diskusi Rupa di SLF 2025 FBS Undiksha

Mahasiswa PBSI FBS Undiksha Lolos Program Nasional “Belajar Bersama Maestro” Bidang Teater

Juli 22, 2025

Direktur Jenderal Kebudayaan Kunjungi Galeri SLF 2025 di FBS Undiksha: Apresiasi untuk Karya dan Semangat Penyembuhan

Juli 25, 2025

Mahasiswa PBSI FBS Undiksha Lolos Program Nasional “Belajar Bersama Maestro” Bidang Teater

Juli 22, 2025

Direktur Jenderal Kebudayaan Kunjungi Galeri SLF 2025 di FBS Undiksha: Apresiasi untuk Karya dan Semangat Penyembuhan

Juli 25, 2025

Singaraja, 25 Juli 2025 — Suasana Galeri Paduraksa Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) Universitas Pendidikan Ganesha berubah menjadi ruang kontemplasi dan resonansi estetik dalam pembukaan Pameran dan Diskusi Seni sebagai bagian dari rangkaian Singaraja Literary Festival (SLF) 2025. Mengusung tema besar “Buda Kecapi: Energi Penyembuhan Semesta”, kegiatan ini menghadirkan dialog artistik yang mendalam antara seniman, akademisi, dan sivitas akademika FBS dalam semangat kolaborasi antara FBS Undiksha dan Yayasan Mahima Indonesia.

Acara dibuka secara resmi oleh Dekan FBS, I Gede Nurjaya, yang dalam sambutannya menekankan bahwa seni rupa memiliki kekuatan untuk menyentuh kesadaran terdalam manusia, menjadi jalan untuk membangun kepekaan, kedamaian batin, dan penyembuhan dalam menghadapi kompleksitas zaman. Pembukaan ditandai dengan pemukulan gong sebagai simbol dimulainya perayaan artistik ini, disaksikan oleh Direktur SLF 2025 Sonia Piscayanti serta para undangan dari kalangan dosen, koordinator program studi, seniman, dan mahasiswa.

Pameran menampilkan karya-karya penuh daya pikat dari tiga seniman nasional: Putu Fajar Arcana, editor budaya Kompas Minggu sekaligus penulis naskah dan sutradara teater; Ni Nyoman Sani, pelukis Bali yang dikenal lewat eksplorasi tema perempuan dalam bahasa visual yang feminim dan berani; serta Nyoman Rediasa “Polenk”, seniman dengan rekam jejak nasional-internasional yang karya-karyanya kerap muncul sebagai ilustrasi di berbagai media arus utama. Setiap karya yang dipamerkan menyuguhkan lebih dari sekadar visual yang indah—ia menjadi perenungan tentang luka, harapan, tubuh, dan keberanian mengekspresikan yang tak terucap melalui warna dan bentuk.

Kegiatan dilanjutkan dengan Diskusi Seni bertema “Seni Rupa, Warna, dan Penyembuhan”, yang mempertemukan dua narasumber inspiratif: Prof. I Wayan Karja, pelukis spiritual yang juga mantan Dekan FSRD ISI Denpasar, serta Dewa Gede Purwita, dosen dan penulis dari IDB Bali yang mendalami relasi antara warna, makna, dan ekspresi visual dalam perspektif desain dan budaya. Diskusi yang dimoderatori oleh Adi Wicaksono ini membuka ruang pertukaran wawasan yang hangat dan menggugah, menyingkap bagaimana seni rupa tidak hanya bersifat estetis, tetapi juga terapeutik—sebagai jembatan menuju kesadaran diri dan pemulihan batin.

Partisipasi aktif mahasiswa dari Program Studi Pendidikan Seni Rupa dan Desain Komunikasi Visual memberi semangat tersendiri. Mereka terlibat sebagai penyelenggara, peserta diskusi, dan penikmat karya, memperlihatkan bagaimana seni tetap tumbuh dan hidup dalam ruang akademik. Dalam konteks yang lebih luas, kegiatan ini mencerminkan komitmen FBS Undiksha terhadap tujuan pembangunan berkelanjutan. Melalui medium seni, FBS turut mendukung SDG 3 (Kehidupan Sehat dan Sejahtera), SDG 4 (Pendidikan Berkualitas), dan SDG 11 (Kota dan Komunitas Berkelanjutan), dengan memosisikan budaya sebagai fondasi pendidikan yang membebaskan dan menyentuh aspek kemanusiaan.

SLF 2025 bukan sekadar perayaan literasi dan bahasa, melainkan juga panggung yang inklusif bagi ragam ekspresi budaya. Melalui seni rupa, pesan-pesan penyembuhan, harmoni, dan harapan disampaikan dalam bahasa yang tidak menggurui, tetapi menyentuh dan menghidupkan kesadaran—menjadikan karya seni sebagai doa visual bagi semesta.